Showing posts with label kontemplasi. Show all posts
Showing posts with label kontemplasi. Show all posts

Sunday, 30 June 2013

Inspirasi Menjelang Ramadhan


Cerita mengenai seorang konsultan berkebangsaan Jepang yang menemukan Islam melalui perasaan kekosongan hidup, mimpi,  dan kegiatan berpikir yang dia lakukan.

Benar-benar lima puluh menit yang sangat menginspirasi. Subhanallah! :s

Friday, 28 June 2013

Menghargai Orang Lain

Menghargai orang lain. Kalimat itulah yang aku pelajari selama tahun pertama kuliah kemarin.

Agak tragis juga ya, setahun kuliah informatika, tapi yang paling nyantol di kepala justru satu kalimat non-nerdy nor techy seperti itu, hehe.

Tapi seriusan, belajar menghargai orang lain itu lumayan susah, apalagi buat seorang (..ehm) idealis. Tahu lah, orang idealis kan biasanya punya pandangan opini yang cukup kuat dan suka gatal sendiri melihat sesuatu yang terasa tidak sesuai. Tentu menghargai orang lain, termasuk menghargai pendapat dan cara pandang yang dianut oleh tiap individu, jelas bukanlah sepotong roti (terjemahan ngawur dari idiom piece of cake).

Dan selama setahun kemarin, banyak juga hal-hal yang dilakukan oleh orang lain yang kemudian saya (dengan segala kesombongan) merasa bahwa apa yang mereka lakukan/pikirkan sama sekali salah, sehingga kemudian saya merespon dengan kalimat 'meh, what are you gonna do with this? It's useless!', atau 'no, you are completely wrong! You shouldn't do this!'.

Kecewa juga dengan kata-kata pekat yang keluar dari diri saya, kok bisa ya saya mengatakan hal yang sebegitu anu-nya? (gak tau mau bilang apa lagi selain 'anu'.) Kekecewaan ini semakin menguat ketika ada seseorang yang bilang, "Don, kamu kalo mau ngasih saran, jangan langsung bilang 'nggak bagus' gitu dong, kamu harus basa-basi dulu, harusnya bilang, 'yep, jawaban kamu yang tadi udah bener kok, cuma perlu dilurusin di bagian yang ini, ini dan yang ini', kalo kaya gini kan lebih enak didengernya, orang tadi juga pasti mau dengerin saran kalo kamu ngomongnya baik-baik".

Tentu saya picky. Saat semester satu kemarin ketika jadi helper di lab bahasa, jika seseorang sudah selesai berbicara, saya akan memberikan saran dengan mengatakan 'serius, kamu udah bagus kok. Tapi kayanya tadi masih malu-malu, jadi bakal lebih bagus kalau blablabla...', atau ketika berdiskusi mengenai pemrograman dasar, saya akan bilang, "nah itu tahu, ngapain masih nanya? Udah jago gitu kok sebenernya". Nah begitu, sedangkan untuk orang yang saya kenal sangat dekat, saya akan memberikan saran yang dosisnya lebih...pekat, yang dengan langsung saya akan mengatakan, "nggak, ini salah!" (-__-")

Tapi sekarang jadi berpikir, nggak nggak, bahkan untuk orang yang kamu kenal dekat, adab menyampaikan saran yang sopan dan motivatif harus tetap diterapkan. Karena? Karena memberikan kritik dan saran sama sekali berbeda dengan debat. Debat itu tujuannya untuk show-off kemampuan diri (?), sedangkan kritik dan saran ditujukan murni dengan tujuan untuk evaluasi serta perbaikan positif. Kritik dan saran itu niatnya baik, dan sesuatu yang baik harus disampaikan dengan baik pula (in terms of sopan, dan tetap menghargai pendapat lain.)

Ngeliat sesuatu yang aneh, tidak sesuai, tidak simetris dan yang sejenisnya yang terjadi pada orang lain memang sering bikin kita pengen menyumbangkan tangan untuk membantu. Tapi, cara menawarkan bantuannya juga harus yang sopan, jangan sampai bikin orang yang kita bantu merasa useless. Dan harus diingat, bahwa tujuan kita adalah menawarkan, bukan memaksakan bantuan. Jadi kalau pada akhirnya orang tersebut menolak tawaran kita, ya lagi-lagi kita harus menghargai keputusan dia. Bagi kita, mungkin cara orang ini dalam menggapai tujuannya agak keluar dari jalur yang (kita pikir) benar. Kalau saran sudah diberikan dan dia masih tetap tidak berada pada jalur yang benar, ya sudah, mungkin jalur yang kita anggap benar itu sebenarnya salah (?), atau mungkin orang itu memang ingin membuat jalurnya sendiri menuju masa depan. Bill Gates dan Steve Jobs mungkin nggak akan jadi Bill Gates dan Steve Jobs yang sekarang kalau mereka tidak membuat jalurnya sendiri. (Dan sungguh pun paragraf yang satu ini begitu bijaknya hingga ingin aku tempel di dinding sebagai self-reminder.)

Aisshh, masalah menghargai orang lain ini mudah sekali ditulis ya, tapi (seperti hal lain kebanyakan) begitu susah untuk dilakukan. Butuh latihan, yang banyak, sepuluh ribu jam, hehe.

Anyway, sebagai penutup, saya jadi ingat perkataan salah satu dosen. Agak nggak nyambung dengan post ini, tapi masih ada relasinya jika dipaksakan, hmmm. Beliau kira-kira berkata begini, "jangan suka marah-marah. Marah itu sebenarnya niatnya baik, marah itu bentuk kepedulian. Tapi, respon seseorang yang pernah dimarahi biasanya hanyalah kebencian kepada kita, mereka nggak akan dengerin kita lagi.". Dan sekarang saya jadi berpikir, ini sebenarnya saya kuliah jurusan apa? Humaniora? Kok yang didapat malah hal-hal begini? :D

Friday, 14 December 2012

Ada solusi.

Ketika sebuah masalah menghadang, ingatlah bahwa selalu ada satu yang bisa menolongmu. Satu, yang mengkreasi semuanya, termasuk masalahmu itu sendiri.

Satu, yang selalu menciptakan semuanya bersisi-sisian. Ada hitam, ada putih. Ada langit, ada bumi. Ada laki-laki, ada perempuan. Ada masalah, ada solusi.

Ada solusi.

Monday, 22 October 2012

After Two Months In College

Setelah hampir dua bulan kuliah, gimana rasanya?
Rumit. Mostly memang menyenangkan, apa yang di masa SMA disebut sebagai angan-angan, sekarang sebutannya menjadi saya di kemudian hari. Secara abstrak terlihat sama aja, sama-sama gak nyata, wkwk.. Tapi bagi saya pribadi, perbedaan antara keduanya itu nyata terasa. Sekarang, saya paham bagaimana cara dan jalan mana yang harus dipilih untuk mewujudkan angan-angan, begitu.

Tapi.. ya. Di tengah perjalanan (bahkan belum nyampe di tengah perjalanan, baru jalan beberapa langkah doang) saya sering mulai kehilangan arah.
"Di mana saya selama ini?"
"Sedang berada di mana saya?"
"Apa dan di mana tempat tujuan saya?"
Itu adalah ketiga pertanyaan yang seringkali saya lupa jawabannya apa. Dan tampaknya sudah bukan hal yang aneh jika tujuan saya tetiba berubah dalam perjalanan, atau tiba-tiba emosi berputar 180 derajat. Akhir-akhir ini saya merasa dipermainkan oleh emosi. Padahal dulu emosi saya rasanya tumpul,  tapi sekarang dia mendominasi.

"Telor dadar kalo ga dibolak-balik, matengnya ga bakal sempurna. Emosi kalo ga dibolak-balik, matengnya juga ga bakal sempurna."

"What doesn't kill you makes you stronger, nikmati aja perjalanan ini". Ya, ya saya sangat menikmati perjalanan ini, perjalanan tanpa tujuan yang jelas ini. Karena ada banyak hal baru yang saya tangkap selama dua bulan ini, salah satunya adalah pelajaran berbagi.

Selama ini, kegiatan "berbagi" bukanlah prioritas, terbayang di kepala pun rasanya jarang. Tapi sekarang, saya jadi tahu nikmatnya berbagi. Dulu, yang dilakukan hanyalah mengejar apa yang ingin saya kejar, hasilnya ya hanya bisa saya rasakan sendiri, untuk diri saya pribadi.

Sekarang, kerasa sekali bahwa saya tidak bisa hidup sendiri. Saya harus berbagi, mereka harus dibagi, dan saya mulai menikmati hal ini.

Legaaa rasanya ketika saya mulai berbicara banyak hal, membagi beberapa masalah kepada teman. Agak pengen jedotin kepala ke tembok juga sih kalo menyadari bahwa saya ini terlalu tertutup. Kenapa baru sekarang saya berani berbagi masalah kepada teman? Padahal sudah bertahun-tahun kami berteman, dan saya baru berbicara sekarang, di saat kami telah terpisahkan rute bus antar kota antar propinsi. Kenapa baru sekarang?

"Tidak ada kata terlambat untuk melakukan kebaikan."

Ya, kalimat di atas ternyata benar adanya (tapi tidak berlaku ketika kita telat masuk ruang kuliah, haha).  Well, better late than never, karena jalan masih panjang.

Ya, jalan masih panjang, dan saya ga mungkin membawa masalah-masalah masa lalu saya dalam perjalanan. Saya harus meninggalkan "barang-barang" tidak penting itu di sini dan berpura-pura tidak pernah memilikinya. Atau solusi lebih baiknya adalah, saya harus membagikannya (maksudnya nyeritain ke orang lain, bukan membagi masalah dalam arti sebenarnya, haha).

Selama ini saya salah. Berbagi cerita itu tidak merepotkan orang kok, karena ternyata banyak orang yang menyukai cerita.

Monday, 10 September 2012

Quote of The Day: Mate

"Find your mate(s) here (in college). He/she/they will push you into the limit. Whenever you feel life is getting harder, they will be just there to accompany you. Sometimes they'll help you, sometimes they just make it even worse, but that's okay."

Sunday, 9 September 2012

Qoute of The Day: Satu Kali

Kamu tahu apa yang menyebabkan hidup di dunia ini begitu berarti? Karena, itu hanya terjadi satu kali. Hal-hal yang kita dapatkan hanya sekali, akan kita manfaatkan dengan benar, jika dan hanya jika kita menyadarinya.

Wednesday, 22 August 2012

Lowest Point


I am at my lowest point right now, hahaha.

Akhir-akhir ini jadi sering emosi. Ya nggak marah-marah, nggak memperlihatkan bahwa saya sedang emosi, kekesalannya justru disimpen di dalem diri. (At some points, sekarang gw jadi mikir kayaknya marah-marah itu lebih enak ya. Sekali teriak, ya udah, selesai. Dulu pernah ada orang yang bilang, kira-kira begini, "nafsu dan emosi itu ada untuk dilampiaskan, bukan ditahan". Agak salah sih, tapi kalo dipikir, ada benernya juga.)

Namanya manusia, wajar kalo marah-marah, wajar kalo kesel, wajar kalo sedih, wajar kalo suka ngeluh. Manusia punya emosi, iya kan? Jadi ya wajar-wajar aja.

Idealnya emang kita harus bisa ngatur emosi. Tapi ngatur emosi kan bukan berarti ga boleh kesel. Ngatur emosi bukan berarti harus memaksakan diri untuk selalu senyum ceria menghadapi masalah. Dilemparin batu, senyum. Kalah, senyum. Ada bencana alam, senyum. Aneh :|

Ibaratnya, seneng dan senyum itu maju selangkah ke depan, dan ibaratnya sedih itu mundur selangkah. Logikanya, supaya cepet nyampe ke tempat yang diinginkan, kita harus maju terus, ga boleh mundur. Itu logikanya. Tapi kita kan manusia, senjata kita bukan cuma logika, tapi juga perasaan alias emosi. Dan gak papa mundur beberapa langkah, kalo pada akhirnya itu malah nambah semangat untuk mempercepat kaki maju ke depan.

Sedih itu gak salah.

Ketika emosi sedang down, kita justru lebih bijak ngadepin masalah. Dan kebijaksanaan inilah yang bisa ngasih tambahan energi buat melangkah lebih jauh ke depan.

* * *
Again, sedih itu gak salah.

Di saat ada yang nangis, temen-temen sekelas saya pada membentuk lingkaran mengerumuni orang ini sambil bilang "udah jangan nangis" atau "udah jangan sedih" serta kata-kata penghibur lainnya. Tapi nggak semua temen saya di sana, ada juga yang keliatan sibuk sendiri dan gak mempedulikan kesedihan si orang tadi. Saya pikir mereka ini skeptis. Tapi kalo dipikir-pikir... Si 'skeptis' ini ada benernya juga mereka begitu. Orang yang sedih itu butuh waktu untuk menyendiri, untuk menikmati kesedihannya tanpa diganggu orang lain. Sedih itu adalah salah satu cara untuk mereparasi diri sendiri. Jadi beri dia waktu untuk bersedih, atau menangis bahkan, jangan buru-buru bilang "udah jangan nangis", biarkan dia menikmati waktunya.

Friday, 17 August 2012

Ulang Tahun Indonesia

Tujuh belas Agustus.

Daritadi baca timeline Twitter yang isinya: celaan, kritikan, sikap pesimisme serta hilangnya perasaan bangga sama yang namanya perkembangan Indonesia.

Di sela-sela celaan itu, terlintas pemikiran random, "Beberapa dari kita mungkin nggak bangga ya sama negaranya sendiri. Tapi.... emang Indonesia bangga punya warga negara kayak kita?".

Katanya sih, jangan tanya apa yang bisa bangsa berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang bisa kamu berikan untuk bangsa.

Anyway, selamat ulang tahun Indonesia! :)


PS: satu lagi pemikiran random muncul: Kalo ulang taun, kan suka ada kue ulang tahun yang dikasih lilin dengan jumlah yang sesuai sama usia tuh... Berarti kue ulang tahunnya Indonesia dipenuhi sama 67 lilin ya? Banyak banget ya lilinnya? Salah salah, yang ada kuenya malah kebakar! :|

Saturday, 11 August 2012

Idealis Berlebih, atau Realitas yang Terlalu Buruk?

Sebenernya hal yang terjadi di jaman ini apa ya? Rakyat yang terlalu banyak mintanya, atau emang pemerintah yang terlalu ga peduli rakyat sih?

Kalo dipikir, rakyat kan manusia biasa ya, jadi pasti ga akan pernah puas akan setiap pencapaian pemerintah (karena ini emang naluri kita: bernafsu untuk menjadi lebih dan lebih tinggi). Pasti ada saja hal yang bisa dikritik dari pemerintah, karena pemerintah juga hanya kumpulan manusia biasa yang gak bisa sempurna.

Jadi gimana dong? Sebenernya rakyatnya yang terlalu idealis, atau emang realita pemerintahan yang ada saat ini sudah terlalu jauh dari kehidupan yang layak?

Thursday, 9 August 2012

Sebuah Titik


Sekuat apapun lo mencoba, you are just a tiny dot in a universe. Lo titik kecil yang ga keliatan, yang gak kerasa kehadirannya.

But luckily, everyone IS a tiny dot.



***

Keramaian; ini adalah hal yang saya benci. Terlalu banyak hal yang 'harus' dipelajari ketika melihat keramaian, terlalu banyak hal yang membuat saya berkata, "oh, that one is better than mine", atau lebih parahnya lagi, "oh how lucky that boy/girl. Diliat dari penampilannya, dia pasti punya hidup yang lebih baik dari saya".


Sangat rendah diri, I know.



Tapi setelah inget, "well, we're all practically same!" Kita adalah titik-titik kecil yang nggak ada apa-apanya. Yes, termasuk si Kyuhyun yang digemari oleh banyak orang, ataupun pengemis jalanan yang keberadaannya berusaha kita hindari: WE'RE ALL JUST TINY DOTS.

Kita (saya, kalian, Kyuhyun, pengemis) adalah titik kecil, yang sama-sama punya kekurangan, sama-sama butuh makan, sama-sama butuh buang hajat, dan sama sama butuh perhatian (jiaaah)). Jadi nggak usah mendewakan manusia terlalu gimanaaa, plus juga jangan merendahkan orang lain.



***

Ada tangga-tangga di dunia ini, dengan adjektif dan gelar yang tertera di setiap tangga. Ada tangga ketampanan, ada tangga kekayaan, tangga kepandaian, tangga pengendalian emosi, dan sebagainya. Di tangga-tangga itu, sangat sulit (baca: hampir impossible) bagi kita untuk berada di tingkatan paling atas (dan jangan ada di tingkatan paling bawah juga, hehe).

Tangga kepandaian misalnya... pasti ada orang yang berdiri di tingkat yang lebih tinggi dari kita, dan pasti ada juga orang yang berdiri di bawah level kita.


Mengingat tangga-tangga ini, mungkin akan lebih mengingatkan bahwa kita nggak boleh sombong, tapi nggak boleh rendah diri juga. You are just a dot. Everyone is just a dot.